Skip to content

Dari Rumah Segala Bangsa untuk Gaza

Ini tentang agama (keyakinan). Karena agama butuh keyakinan agar bisa tetap ada di muka bumi. Kita lupa, sebagai manusia yg jumlahnya milyaran dikenalkan bahwa keyakinan memandang dan memperlakukan manusia lainnya dengan baik, tak saling mematikan, adalah bentuk terindah dari sentuhan keyakinan yang paling bisa dirasakan, setiap harinya.

Jika terus berkata ini bukan soal keyakinan dan mencari di mana keberadaan kemanusiaan (humanity), sudah banyak bangsa yang tak serius membicarakan kemanusiaan. Yang benar hanya kemanusiaan dalam versi masing-masing.

Puluhan tahun sudah Palestina mencari bantuan, atas nama kesamaan rumpun, sejarah bangsa, wilayah bangsanya, sampai membawa persaudaraan umat, tapi negara tetangga terlanjur menjadi bubur. Bangsa-bangsa Arab kehabisan panah dan ayat-ayat, tak bisa diandalkan.

Kemanusiaan bukan seruan baru, ia sudah lama populer di kotak-kotak kardus sumbangan. Juga di forum internasional yang jelas membelah kutub dunia, penjajah dan yang dijajah. Lalu di mana kita?

Banyak pandangan dan kesaksian mengatakan bangsa Indonesia, kali ini menjadi harapan mereka dalam membebaskan tanah yang dijanjikan. Dengan penduduk muslim terbesar di dunia, ketika bangsa Arab kawasan timur tengah disibukkan dengan konfliknya sendiri bahkan terancam di antara sesama muslim.

Ya Tuhan, Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, atas serangan 8 Juli itu, kami mohon berikan kebesaran hati kepada para Ibu dari anak-anak mereka pergi lebih dulu.
Kepada anak-anak yang menjadi korban di surga, doakan kami mampu menjawab harapan bangsa mereka, yang juga semangat bangsa kami yakni, “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.”

 

11 Juli 2014

IMG 21122012

akhiran tahun 2011.

akhiran tahun 2011.

Konflik Horizontal dan Sikap Kita Orang Indonesia

Saya pernah berkata pada sebuah diskusi bedah film besutan Deddy Mizwar kalau Indonesia punya banyak materi untuk difilmkan dengan tema fenomena sosial, atau kerucutkan saja seputar konflik horizontal. Sumber materinya tak perlu lagi dikarang-karang karena hampir sepanjang tahun kita dipertontonkan, sebutlah pertikaian antar kelompok, kaum pemuda atau terpelajar yang saling serang, perselisihan kelompok ras, suku, atau agama, dan sebaiknya saya hentikan saja sekarang. Dan dibalas oleh salah satu pembicara yang mengaku pengamat film nasional. Ia menambahkan dengan reaksi agak kebingungan, “Kami juga bertanya-tanya, ini berkah atau kesialan bagi film Indonesia?”

Yah selagi kita mencoba bangkit ternyata ada saja orang-orang yang menyebar-luaskan sentimen memecah belah kebersamaan kita, memecah belah bangsa.

Kedamaian yang Terisolir

Saya lahir dan besar di tempat yang nyaris tak tersentuh hal-hal semacam konflik-konflik tersebut. Bontang, Kalimantan Timur, kota saya dilahirkan itu dimulai dengan kedatangan pelaut Bugis-Mamuju dan perlahan diramaikan pendatang dari Jawa dan daerah barat lainnya. Lebih jauh ke sini, semakin ramai pendatang yang sengaja datang setelah mendengar kabar pulau Kalimantan menjanjikan kehidupan yang lebih baik.

Ya kota ini memang berkembang selain karena perusahaan minyak gas multinasional dan pupuk amoniak yang menopang ekonomi, juga disebabkan oleh aktivitas warganya yang multikultur. Berkumpulnya berbagai suku, agama, dan budaya, biasa disebut dengan istilah melting pot, tanpa sadar menciptakan bentuk kebudayaan baru secara lokal (local culture) tanpa menghapus adat atau praktek kubudayaan setiap individunya. Seorang jawa dan bugis yang sudah akrab akan berbicara dengan bahasa Indonesia (yang tidak EYD) dan sesekali menyelipkan bahasa daerah mereka. Seorang Batak ketika masuk ke rumah temannya yang seorang Jawa dengan cara tidak sama sekali ke-jawaan akan berterima. Pembicaraan terbuka di antara macam-macam suku yang saling menyindir budaya satu sama lain juga tidak berujung pertikaian. Yang mau saya katakan adalah toleransi yang terbangun dengan sadar dan tanpa sadar karena tinggal dan hidup berdampingan, bukan karena siapa yang lebih dulu mendiami tempat tersebut. Dan untuk hal yang tidak saya ketahui, setiap potensi konflik segera teredam di kota ini.

Read more…

(Film) The Lady 2011 : Suu Kyi, “Anggrek Baja” dari Asia

“Tujuan yang kita pegang sudah di depan mata. Kita menuntut pemilu yang adil dan bebas, dan diatur dalam waktu sesingkat mungkin.” kata wanita paruh baya itu yang kemudian disambut riuh tepuk tangan sejuta orang di hadapannya. Orang-orang itu bersenang, bergembira karena merasa telah menemukan kembali semangat untuk melihat perubahan besar pada bangsanya.

Ya, itu tadi potongan pidato dari salah satu adegan film The Lady (2011) besutan sutradara Luc Besson. Film ini menceritakan wanita yang beberapa tahun terakhir ini menjadi berita besar di media, menyorot keputusannya untuk melawan rejim militer anti-demokrasi dan menggunakan cara-cara kekerasan dalam berkuasa. Perempuan ini Suu Kyi, putri dari Jendral Aung San tokoh yang berjasa memerdekakan Burma atau Myanmar. Di awal film, Aung San tewas dihujani peluru bersama dengan beberapa pemimpin Myanmar di ruang rapat oleh kelompok militer khusus.

Kisah ini banyak menceritakan keluarga Suu Kyi, yang diperankan oleh Michelle Yeoh. Suaminya, Michael Aris (Mikey) dimainkan oleh David Thewlis dan ia menjadi tokoh yang kuat pada jalannya alur cerita. Film ini langsung mengirim kita pada keluarga mereka di Oxford, Inggris yang hidup begitu harmonis, penuh kasih. Alex dan Kim, anak Suu Kyi menjalani kehidupan sekolah mereka. Namun alur berubah ketika Suu Kyi menerima telepon bahawa ibunya masuk rumah sakit di Rangoon. Kunjungan kepada ibunya memaksa Suu Kyi menyaksikan dengan matanya sendiri kebiadaban kuasa militer terhadap warga Burma sendiri. Mahasiswa yang menggalang demonstrasi satu-persatu masuk rumah sakit dalam keadaan berlinang darah.

Situasi yang tak pernah dibayangkan sebelumnya ini perlahan menyentuh hati Suu Kyi hingga suatu hari sekumpulan akademisi dari universitas mendatangi rumahnya dan menyatakan bahwa Burma membutuhkan dirinya untuk menciptakan keadilan di tengah rakyat. Suu memilih tinggal, di tanah kelahirannya. Selain seorang ahli sejarah Asia, pemikiran yang sama tentang demokrasi dan anti kekerasan yang dimiliki Mikey, semakin menguatkan Suu. Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) menjadi alat politik Suu dan koleganya untuk merubah masa depan Burma. Pidato-pidato Suu di berbagai daerah, pedalaman Burma tersampaikan dalam film ini.

Read more…

Legenda Rakyat Datu Museng dan Maipa Deapati : Cinta di tengah Imperialisme Makassar

Siapa tak mengenal kisah Romeo dan Juliet yang dibuat pada masa kerajaan Inggris Elizabethan oleh pujangga paling-dikenal hingga saat ini, William Shakespeare. Meski berakhir tragis, kisah ini tetap dikenang dan sering kali menjadi judul besar dalam kelas-kelas sastra karena memperlihatkan bentuk kesetiaan antara sepasang kekasih. Namun, mari tinggalkan sejenak kisah Romeo Juliet tadi dan mencari apa di Indonesia juga memiliki cerita rakyat bertema perjuangan cinta layaknya karya Shakespeare itu. Di Makassar, Sulawesi Selatan ternyata ada kisah percintaan yang tak kalah dengan Romeo dan Juliet yakni Datu Museng dan Maipa Deapati.

Pementasan Legenda Rakyat Datu Museng dan Maipa Deapati

Bertempat di Trans City Theatre Trans Studio Makassar, legenda Datu Museng dan Maipa Deapati (DMMD) digelar selama 5 hari, 25-29 Februari 2012 oleh Dewan Kesenian Makassar. Drs. Fahmi Syarif, M.Hum, sang penulis muncul sebagai sutradara dan ia sudah dikenal dalam kesenian lokal Sulsel. Drama empat babak ini diawali dengan set Kerajaan Sumbawa di mana putri Sultan Sumbawa Maggauka, Maipa Deapati telah menghilang dari bilik istananya dan diketahui kemudian telah dibawa oleh Datu Museng, putra berdarah Makassar yang terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya sejak umur 3 tahun dan menetap di Sumbawa. Karena politik adu-domba kolonialisme Belanda  yang menyebabkan kekacauan di Makassar antara keluarga Datu Museng dan Karaeng Galesong (Tetua Galesong), Datu Museng dan kakeknya pergi meninggalkan Makassar.

Bagian kedua ketika Datu Museng dan istrinya pergi ke Makassar karena perintah Maggauka. Ia diperintahkan untuk menyelesaikan masalah ulah Datu Jarewe yang berkhianat untuk menguasai Sumbawa, dan dalangnya, pemerintah Belanda di bumi Makassar. Tumalompoa (Kapten) Belanda yang ditugaskan untuk mengawasi kelangsungan pemerintahan kolonial di Makassar menantang Datu Museng dan menginginkan Maipa Deapati. Militer Belanda dan Pasukan Galesong yang berhasil dihasut oleh Belanda mengepung kediaman Datu Museng. Merasa dalam keadaan terdesak dan ketakutan atas kekejaman Tumalompoa Belanda, Maipa Deapati meminta Datu Museng mengambil nyawanya sendiri. Suasana pedih dan haru tercipa ketika scene Datu Museng menyubitkan keris kecilnya dan meninggalkan luka sobek di leher Maipa. Maipa yang lunglai di pangkuan Datu Museng dibaringkan kemudian.

Read more…

The Importance of Semiotics (sebuah pengantar singkat)

Dalam drama klasik The Importance of Being Earnest yang bercerita tentang kisah percintaan pemuda bernama Jack yang memutuskan untuk menggunakan nama ‘Earnest’ demi memikat wanita pujaannya, Gwendolen mungkin menjadi suatu kasus semiotika atau juga semiologi yang akan membuka tulisan ini. Dibalik maksud menyindir tradisi dan perilaku para kelas elite era Elizabethan di Inggris pada masa itu, Oscar Wilde menciptakan tokoh yang penuh ‘makna’ bernama Earnest dalam drama komedi ini.

Jack, pemuda dari pedesaan bernama Shropshire datang ke rumah temannya, Algernon dengan maksud mendekati sepupunya kawannya ini, Gwendolen. Gwendolen, anak yang berasal dari keluarga elite kala itu memuja pemuda yang bernama Earnest, yang tak lain ialah Jack. Penilaian Gwendolen atas nama Earnest yang dipuja ini begitu opresif, jika kita artikan ‘earnest’ ini berarti bersungguh-sungguh, jujur, bisa juga tekun. Dan berangkat dari penilaian ‘polos’ gadis ini, hubungan antara Jack dan Gwendolen semakin dekat. Terlebih, saat itu nama ‘earnest’ sendiri sedang populer di masyarakat kelas atas kala itu.

Ketertarikan manusia pada tanda-tanda dan bagaimana cara orang-orang berkomunikasi ternyata telah memiliki sejarah yang tidak singkat, kemudian semiotik modern pun lahir diawali oleh dua linguis besar, Ferdinand de Saussure asal Swiss dan filsuf Amerika, Charles Sanders Peirce. Meskipun kedua orang ini berbicara tentang tanda, ada perbedaan dalam melihat semiotika di beberapa hal. Contohnya bagaimana Saussure membagi tanda menjadi dua komponen, penanda (signifier) dan petanda (signified) yang menegaskan bahwa kedua hal ini berhubungan dalam membentuk makna dan dalam perkembangan semiotika.
Semiotik atau ada yang menyebut dengan semiotika berasal dari kata Yunani semeion yang berarti “tanda”. Istilah semeion tampaknya diturunkan dari kedokteran hipokratik kala itu. Tanda pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Secara terminologis, semiotik adalah cabang ilmu yang berurusan dengan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi tanda (van Zoest, 1993:1). Ahli sastra Teew (1984:6) mendefinisikan semiotik adalah tanda sebagai tindak komunikasi dan kemudian disempurnakannya menjadi model sastra yang mempertanggungjawabkan semua faktor dan aspek hakiki untuk pemahaman gejala susastra sebagai alat komunikasi yang khas di dalam masyarakat mana pun. Semiotik merupakan cab ang ilmu yang relatif masih baru. Penggunaan tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya dipelajari secara lebih sistematis pada abad kedua puluh. Para ahli semiotik modern mengatakan bahwa analisis semiotik modern telah diwarnai oleh Ferdinand de de Saussure (1857 – 1913) dan Charles Sanders Peirce (1839 – 1914). Peirce menyebut model sistem analisisnya dengan semiotik dan istilah tersebut telah menjadi istilah yang dominan digunakan untuk ilmu tentang tanda. Semiologi de Saussure berbeda dengan semiotik Peirce dalam beberapa hal, tetapi keduanya berfokus pada tanda. A Course in General Linguistics (1913) karya Saussure menjadi rujukan awal dalam kelas-kelas semotika pada umumnya di universitas.

Hampir setiap penelusuran untuk mendapatkan sejarah perkembangan semiotika akan memunculkan gagasan yang berasal dari ilmu linguistik dengan tokohnya Ferdinand de Saussure (1857 – 1913). de Saussure tidak hanya dikenal sebagai Bapak Linguistik tetapi juga banyak dirujuk sebagai tokoh semiotik. Selain itu ada tokoh yang penting dalam semiotik adalah Charles Sanders Peirce (1839 – 1914) seorang filsuf Amerika, Charles Williams Morris (1901 – 1979) yang mengembangkan behaviourist semiotics. Kemudian yang mengembang-kan teori-teori semiotik modern adalah Roland Barthes (1915 – 1980), Algirdas Greimas (1917 – 1992), Yuri Lotman (1922 – 1993), Christian Metz (193 – 1993), Umberco Eco (1932),dan Julia Kristeva (1941). Linguis selain de Saussure yang bekerja dengan semiotics framework adalah Louis Hjlemslev (1899 – 1966) dan Roman Jakobson (1896 – 1982). Dalam ilmu antropologi ada Claude Levi Strauss (1980) dan Jacues Lacan (1901 – 1981) dalam psikoanalisis.

Pemikiran de Saussure tentang tanda dibagi dalam dua hal, signifier dan signified. Ia menulis: the linguistic sign unites not a thing and a name, but a concept and a sound image a sign. Mudahnya saya menggambarkan seperti ini; segala macam citra bunyi, coretan-coretan adalah signifier sementara konsep adalah signified dan kombinasi keduanya disebut tanda (sign). Istilah yang lebih lazim digunakan Saussure untuk menyebut ilmu ini dengan semiologi yang memang lebih dikenal di Eropa. Ia mengatakan bahwa ilmu ini adalah sebuah studi tentang aturan tanda-tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial. Kalau kita kembali sedikit ke kisah di awal tadi, bagaimana nama ‘Earnest’ bisa menjadi objek karena dibangun oleh tokoh-tokoh lainnya, Gwendolen dan Jack/Earnest sendiri. Jack yang dari desa merasa dirinya bagian dari kaum kelas atas kemudian menggunakan kata Earnest dan di saat yang sama berusaha memikat hati Gwendolen. Gadis polos ini pun menilai bahwa Earnest ini pria idamannya hanya karena ia bernama ‘earnest’, yang dimainkan oleh Jack. Nama ‘Earnest’ ini kita masukkan sebagai tanda(sign), yang kalau menurut Saussure ada yang mengkontruksinya, yakni ‘earnest’ adalah bunyi dan nama sebagai penanda (signifier) lalu konsep ‘earnest’ sendiri setelah kita artikan di awal tadi berfungsi sebagai petanda (signified). Maka kecewa lah Gwendolen begitu mengetahui bahwa nama Earnest hanya karangan Jack yang jauh dari harapannya, dan serta merta penilaian atas ‘earnest’ runtuh di saat yang bersamaan.

Peirce selain seorang filsuf juga seorang ahli logika dan Peirce memahami bagaimana manusia itu bernalar. Peirce akhirnya sampai pada keyakinan bahwa manusia berpikir dalam tanda. Maka diciptakannyalah ilmu tanda yang ia sebut semiotik. Semiotika baginya sinonim dengan logika. Secara harafiah ia mengatakan “Kita hanya berpikir dalam tanda”. Di dalam studinya tentang tanda, legisigns yang masuk dalam pembagian tanda berdasarkan sifat dasar (ground) memiliki tiga aspek, yang biasa disebut dengan trikotomi, yakni ikonik, simbolik, dan indeksikal. Legisigns adalah tanda-tanda atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum, sebuah konvensi (kesepakatan), sebuah kode. Seperti halnya, tanda lalu lintas, mengangguk, mengerutkan alis, jabat tangan, dll.

Ikonik (Iconic) adalah sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang serupa dengan bentuk objeknya, hal ini terlihat pada gambar atau lukisan. Kemudian fungsinya adalah memberi arah dan menuntun langkah fungsional. Ikon ini juga hanya melingkupi penilaian personal. Simbol, ialah penanda yang melaksanaka fungsi sebagai penanda secara alami telah lazim digunakan dalam masyarakat dalam melihat objek. Fungsinya seperti menjadi representasi dari pikiran, mewadahi identitas, dan mewadahi atribut. Terakhir indeks, atau indeksikal, sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang mengisyaratkan petandanya. Berfungsi untuk menghadirkan konflik dan pemahaman secara mutualis. Contohnya seperti asap, yang harus ada api lebih dulu.

Sederhana piker saya, Wilde sudah memikirkan soal ‘tanda’ saat menulis judulnya tentag kisah Earnest dan Gwendolen. Earnest sebagai tanda, sebagai tokoh atau karakter, dan sekaligus objek semiotika di atas mendapatkan tempat yang pas di sepanjang alur cerita. Rasanya itu sebab mengapa judulnya, “The Importance of Being Earnest” atau pentingnya untuk menjadi Earnest (jujur, tekun dan bersungguh-sungguh).

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 343 other followers